Kalau ada yang bilang "semua indah pada waktunya"
Kalau ada yang bilang "semua orang rejekinya beda"
Sudahkah saatnya bergumam:
Apa indahnya?
Kapan waktunya?
Orang yang mana?
Rejekinya bilamana?
Terlalu banyak nyamuk dosa yang menggigit
Merasa kecil tentu sah
Habis digerogoti
Rasa bersalah pun bermanja dengan nurani
Kadang bertekak mirip suami istri
Berada di tengah itu bak berada di ketidaktahuan
Lebih menakutkan
Terjerembab, ditangkap trampolin
Terjungkit, ditabok langit
Semua nyawa maka meringkih merangkak
Mencari lubang bersanding
Menunggu tali tambang berjudul keajaiban
Doktrin dan doa kumandang merdu
Mana indahnya?
Mana waktunya?
Mana orangnya?
Mana rejekinya?
Mana mananya?
Mana?
Medan, 24 Februari 2015
Afif Nabawi
Ditabok Langit
Author: Afif /Di Tengah Kicau
Author: Afif /
Disini ramai
Ada kucing di bawah
Mencari sisa
Di tengah kicau tawa
Ada kucing di bawah
Mencari sisa
Di tengah kicau tawa
Tidak sendiri, tidak bersama
Cuma bisa bilang, bisa membalas
Sanggup, mustahil
Tembok mental sudah busung menjulang
Cuma bisa bilang, bisa membalas
Sanggup, mustahil
Tembok mental sudah busung menjulang
Tertawa, tapi tak terdengar
Menangis, tapi tak terjamah
Meraung, tapi tak terhirau
Terdiam, tapi tak kuat
Menangis, tapi tak terjamah
Meraung, tapi tak terhirau
Terdiam, tapi tak kuat
Sebatang nyawa di tengah berpuluh
mata
Seulu muram di tangis ceria
Seulu muram di tangis ceria
Detik jadi dekade
Sehari jadi selamanya
Sehari jadi selamanya
Medan, 21 Februari 2014
Afif Nabawi
Dan Jadilah
Author: Afif /
Kata ialah tongkat sihir
Yang kita lakukan
Sebut saja mantranya
Dalam relung pikir
Yang kita lakukan
Sebut saja mantranya
Dalam relung pikir
Maka jari lantas menyetir
Dan jadilah sihir
Dan jadilah sihir
Sihir ialah durian
Salah salah bisa berdarah
Benar benar bisa berdesah
Kalau tahu kalau pandai
Maka sihir lantas menguntai
Dan jadilah durian
Salah salah bisa berdarah
Benar benar bisa berdesah
Kalau tahu kalau pandai
Maka sihir lantas menguntai
Dan jadilah durian
Durian ialah pilihan
Dibuang boleh diambil boleh
Dicuri boleh dilempar boleh
memang ada budaya semu
Maka durian lantas bertuhan
Dan jadilah pilihan
Dibuang boleh diambil boleh
Dicuri boleh dilempar boleh
memang ada budaya semu
Maka durian lantas bertuhan
Dan jadilah pilihan
Pilihan ialah kita
Ada buruk ada baik
Luar di dalam, dalam di luar
Selalu hadir sanubari nyata
Maka pilihan lantas bertuang
dan jadilah kata
Ada buruk ada baik
Luar di dalam, dalam di luar
Selalu hadir sanubari nyata
Maka pilihan lantas bertuang
dan jadilah kata
Medan, 20 Februari 2014
Afif Nabawi
Atap Bintang
Author: Afif /
Kaki bermanja dengan rumput
Menggelitik butir pori beriak sampai ke hati
Ucap syukur, mungkin bibirku sudah bosan
Tuhan mengelus dengan alam sempurna
Ucap syukur, mungkin bibirku sudah bosan
Tuhan mengelus dengan alam sempurna
Tidak terhitung berapa nafas sudah
dihela
Dipeluk udara begitu kaya
Bak bisik bidadari yang menghembus hidup
Isyarat kelana ditinggal warisan
Dipeluk udara begitu kaya
Bak bisik bidadari yang menghembus hidup
Isyarat kelana ditinggal warisan
Hangat malam menjemput
Diri ditiduri atap bintang
Melajang menatap mukjizat
Mengulum kagum pada ciptaannya
Diri ditiduri atap bintang
Melajang menatap mukjizat
Mengulum kagum pada ciptaannya
Lain sadar bersandar sekitar
Siang datang, terlihat sampah berentang
Seperti kentut yang dibuang
Dalam diam namun tiada muram
Siang datang, terlihat sampah berentang
Seperti kentut yang dibuang
Dalam diam namun tiada muram
Layar bicara
Mulut merona
Air mata merana
Insan tersiksa
Mulut merona
Air mata merana
Insan tersiksa
Sudah begitu, salahkan pemerintah
Sudah begitu, kutukkan alam mentah
Sudah begitu, tamparkan tuhan megah
Akal sudah berkutu bodoh
Sudah begitu, kutukkan alam mentah
Sudah begitu, tamparkan tuhan megah
Akal sudah berkutu bodoh
Negara ini punya seribu harta
Sayang punya berjuta mulut
Tangan hanya dua
Itupun berpacaran dengan saku
Sayang punya berjuta mulut
Tangan hanya dua
Itupun berpacaran dengan saku
Medan, 20 Februari 2014
Afif Nabawi, puisi untuk lingkungan
Pengendali Hati
Author: Afif /
Katanya
Jatuh cinta itu manusiawi
Namun
Cinta sejati adalah melepaskan
Jatuh cinta itu manusiawi
Namun
Cinta sejati adalah melepaskan
Doa, tunggu, usaha, pantaskan, sabar
Bila memang begitu rimbanya
Titis iris hidup tidak miris
Hanya perlu jalani, dan datangi
Bila memang begitu rimbanya
Titis iris hidup tidak miris
Hanya perlu jalani, dan datangi
Belajar pengendalian hati
Medan, 20 Februari 2014
Afif Nabawi
Langganan:
Postingan (Atom)
Puisi Favorit Pembaca
-
Nanti bila sudah waktunya Ada wajah dan kata yang terlupakan Bilamana waktu dan tenggat mengulah Sedikitnya merembes kembali Sungguh...
-
Kita bukan robot Jangan kau paksa yang kau anggap robot jadi robot Kau pun bukan robot Kalau kau pikir robot tak punya hati, lalu ...
-
Remang pagi Menyenter remah roti Bebas terjemur matahari Harum pakaian merimbun Sehidup nafas baru Dan liur yang membiru Demi apap...
Diberdayakan oleh Blogger.