Taman Belakang

Author: Afif /



Menunggu momen itu pahit
Entah datang, entah lewat, entah terbekap tewas
Di cekik, paksa pasrah
Bergerak pun susah

Di taman ini, terduduk padu
Daun jatuh seraya mengatakan: "kau mau jadi apa?"
Monoton
Begitu saja
Semua juga berimam tanya itu
Cuma nyamuk yang diam
Sibuk menggerayangi mangsa
Aku termasuk

Setiap pinggul yang lewat
Sibuk sendiri searah wajah
Ada yang sendiri, meratap
Ada yang berkumpul, menetap
Ada yang bingung, bertatap
Aku termasuk

Bolehkah mati sedikit, sebentar
Satu putaran jam saja
Agar kiranya dapat tiket ke kota lain, negeri lain, alam lain, dimensi lain
Tanpa terulang, tersesal
Nihil artinya tertegun sunyi

Kapan lagi dapat suasana seperti ini
Ingin pergi tapi terhanyut
Bukan terjebak, hanya takut
Aku kecil

Hidup mati di dunia yang berbeda


Medan, 5 Juli 2015
Afif Nabawi

Gugur

Author: Afif /



Aku diterror kekosongan
Di dalamnya aku tertawa sunyi
Berkah tiap pletuk kaki dicari
Kebebasan mencibir sepuas berlari

Tolong aku
Beri nyawa lagi
Fisik hanya topeng abadi
Aku remuk mati
Dari semalam di tengah bulan kelam
Doa doa yang ku gantung
Gugur
Bergoyang ke kiri, lalu kanan
Selagi memudar
Hanya aku ditemani aku
Gelap, pedih, pengap
Aku sulit bernapas
Sadarku terlepas-lepas
Pikirku terkelupas
Aku lemas
Tolong aku


Medan, 5 Juli 2015
Afif Nabawi

Tertawa di Kantung Takdir

Author: Afif /



Anehnya kebahagiaan yang datang tiba-tiba
Tanpa lampu hijau, tanpa telepon dahulu
Melihat dan mendengar begitu membentak sisi halus
Di setiap langkah serasa ingin berdansa sambil sedekah senyum

Kebermaknaan hidup, begitu empiris
Kehadiran orang, atau tiada hadir
Tertawa di depan kantung takdir, seperti bengal
Serapah sampah tentang masa depan
Siapa peduli

Ketika bersandar di remang sendu
Bertanya kapan kembali terbangun
Di serang percikan air, pecahan wajah seseorang
Air dingin di tengah puasa, kalah leganya

Sejak kapan menjadi tidak peduli adalah sedikit kebebasan
Berani bilang, tanpa belakang berbilang
Terlalu menyenangkan untuk dilewatkan
Acuhlah sedikit, sedikitnya sajapun

Sadar disuntik, kontan
Bukan terpaksa, bukan topeng raksa
Tidak tahu menahu tahu
Lengkung bibir selalu menetap

Biar jarum jam terus berlari sampai dia lunglai layu
Lalu uban muncul dan punah
Kertas demi kertas yang di warnai
Dan hati yang di peluk dan pukul

Bersiaplah masa depan
Berhentilah peduli

Pernahkah kau bahagia tanpa sebab?


Medan, 3 Juli 2015
Afif Nabawi

Pendengar Tak Terucap

Author: Afif /



Aku mendengar yang tak terucap
Sebelum ku tahan lebih tenggelam
Lebih gelap
Tapi kau dengar ini, kau dengar

Kau boleh sepelekan aku
Memanglah adanya aku kalah terang
Mungkin mereka yang berfoto tiap hari
Pamer dimana mereka, siapa mereka
Kau jatuhkan kembali kelopak matamu
Di poros megahnya mereka mereka itu

Silahkan saja kau senang dengan mereka
Otak mereka sekasta nirkabel
Wajah mereka disemirkan kilap
Mereka selalu tampak berjaya di maya
Aku juga senang
Sepertinya

Tapi kalau kau menyangka aku serendah itu
Semoga kau menyesal
Karena kau takkan pernah menyaksikan

Sisi lainku yang penuh rahasia
Ku jamin kau takkan temukan di jiwa nyata yang lain

Rugilah dirimu sana
Karena hanya aku 
Aku mendengar yang tak terucap


Medan, 2 Juli 2015
Afif Nabawi

Separuh Janji

Author: Afif /



Separuh janji
Membutakan

Separuh dibawanya
Separuh tersimpan

Kapan bersatu janji
Tertukar lagu yang terberi

Keasikan berjalan di tempat
Tempatnya mulai terkikis pekat

Hitam yang harus terhapus
Enggan kunjung hilangnya
Masih menanti ratap
Dimana putih, dimana?
Malaslah berbohong polong
Bila sudah sedekat kening ini
Bilamana sekitar menghujam
Hitam kembali mencuat karat

Diakhir jalan nanti
Tunggulah
Seperti selalu
Separuh janji
Terucap
Dan terbawa kembali
Biar jadi bahan senyuman
Dibumbui kenangan
Pengantar mimpi yang baru

Peninggal kenyataan yang lama
Keberanian akan menjawab janji
Ya, separuhnya lagi
Tinggal keberanianmu,
Di benakmu yang jauh di sana


Medan, 1 Juli 2015
Afif Nabawi

Puisi Favorit Pembaca

Diberdayakan oleh Blogger.