Terimakasih Cabai

Author: Afif /



Tapi..
Seriuslah sedikit
Tak mungkin seidealis itu juga kan?

Cobalah bayangkan
Ketika dunia ini
Dipenuhi manusia
Yang sifatnya sama
Penyabar semua
Enggan marah
Berpikir positif
Selalu memberi
Ah memang seperti malaikat
Aku mungkin sudah di surga
Kalau tuhan memberi tiketnya
Tapi aku belum mati

Mumpung masih di dunia
Acap kali
Memang butuh yang suka marah
Memang butuh
Yang suka meminta
Yang suka bergosip mungkin ada
Yang pelit mungkin terselip
Yang terburu cemburu tersedia
Yang terjelit hasut ciut
Yang tak perduli babi
Yang melawan kawan
Yang salah tak jadi masalah

Sudahlah
Hadapilah
Dunia memang butuh cabai
Kalau manis selalu
Bisa kena diabetes
Salah juga
Kalau asin selalu
Bisa hipertensi
Salah juga
Kalau kebanyakan pedas
Paling hanya diare
Lebih bisa dimaklumi

Sepertinya harus berterimakasih
Kepada cabai-cabai yang berkeliaran


Medan, 27 Maret 2016
Afif Nabawi

Nikmatnya Menghilang

Author: Afif /



Nikmatnya menghilang!
Tak disangka-sangka

Dulu ketika kita dimana
Aduh
Dilihat dia, dipantau dia
Kau bergerak kau harus kabari
Ke setiap pelosok dunia nyata
Boleh juga dunia maya

Lalu dari sana kau akan dinilai
Wah
Kau memang hebat
Atau
Fuh
Kau memang payah

Cukuplah masa-masa itu
Masa dimana semua orang
Harus tahu
Kau mau apa
Kau mau dimana
Kau sedang apa
Dan sedang bersama siapa

Pertanyaan aku sederhana
Penting?
Saat kau tua nanti?
Saat kau tak lagi cantik?
Saat kau tak lagi berharta?
Saat kau iri dengan yang lain?
Saat kau merasa kecil?

Kau bayangkan ini
Kenikmatan menghilang

Tak perlu selamanya
Nanti kau dikira mati

Tapi tak perlu juga kau
Mengabar dan mengumbar
Kau hanya perlu menikmati
Setiap momen
Dan setiap bagian kecil
Dari waktu
Dan lingkaran

Berisi orang-orang yang kau sayangi
Biarkan masa itu bernafas
Dan lewat tanpa orang lain tahu

Kau bayangkan ini!
Kau bisa jadi liar
Bisa jadi berantakan
Bisa jadi mempesona
Dan kau bisa menganggap pada saat itu
Hanya sesaat dan tidak abadi
Bukankah memang itu yang wajar?

Apalagi orang-orang impulsif ini
Kentutpun, disebar kemana-mana
Luar biasa
Salutlah
Kalian para artis

Cobalah sekali-sekali
Menghilang dan memantau

Kau akan bebas
Jadi penguasa duniamu sendiri

Kenapa?
Karena kau selalu punya ruang kecil
Yang bukan hanya berisi kedamaian
Tapi juga sedikit waktu
Untuk menjadi besar
Dan mengejutkan mereka
Yang sudah besar


Medan. 24 Maret 2016
Afif Nabawi

Masokis

Author: Afif /



Diayun
Ini sedang dendang
Layaknya semua yang sudah dibangun
Tumbang berserakan
Tidak jadi serpih
Masih menggumpal
Renyah ruah
Cuma jadi muntahan

Bila semua yang dikerjakan
Tidak bertemu dengan hasil yang didambakan
Ratapilah sedikit
Jatuhlah dengan sakit
Rajinlah mengungkit
Namun mari jangan lupa
Tiada yang lebih berarti
Setara hadang dan bangkit

Lalu tertawa di tempat jatuh
Dan nikmati pedihnya
Siapa tahu
Kau seorang masokis

Medan, 22 Maret 2016
Afif Nabawi

Yang Terlupakan

Author: Afif /



Aku lupa
Ah
Aku benar-benar lupa
Ada satu hal yang besar
Yang dilupakan kehidupan
Dari mulai anak-anak layang
Sampai tertua yang tidak berhenti pubertas

Cermati dan semati
Sekitarmu yang serasa dingin
Bila kau ingin sesuatu
Kau harus bayar
Bila kau meminta secara paksa
Kau memanglah kasar
Batas-batasnya semakin buat linglung

Aku dan teman-temanku
Kami sedang di masa pencarian
Sungguh, kami ingin cinta yang sebenar-benarnya
Tidak pandang apapun
Cuma terikat benang kuat
Yang kami sendiripun tak tahu
Warnanya apa, kenapa ia disana
Yang kami tahu,
Kami sudah temukan
Rumah kami

Tapi itu dulu
Saat kami tak menunduk melulu
Sekarang, kami melihat harta
Kau punya apa, kami punya apa
Habisnya, bersatu di ranjang
Tidaklah semurah itu
Kau tidur
Besoknya saat bangun
Kau makan apa?

Tapi itu dulu
Semenjak kami mencari benalu
Sejatinya, kami melihat siapa bapakmu
Kau anak siapa, kami anak siapa
Habisnya, bersatu di rumah
Tidak semudah itu
Kau bermain
Besoknya melawan adikku kau mau apa?

Kita sudah kehilangan cinta
Bawalah alasan agama
Atau idealisme
Atau segala drama di layar kaca
Yang dulu kita tonton sampai bersandar

Siapa bilang saat jatuh hati,
Dunia milik kita?
Justru kita yang dimiliki dunia
Tuntut itu, tuntut ini
Dan jangan lupa
Kau tak bisa menuntut balik
Kau hanya bisa manggut
Sampai kau sadar
Nafasmu jadi angin polos

Ah aku baru ingat
Satu hal besar yang terlupakan
Setelah temanku mendengar
Satu lagu dari satu seniman
Yang namanya
Juga hampir kulupa

Tulus


Medan, 20 Maret 2016
Afif Nabawi

Kejar!

Author: Afif /



Di masa yang lapang ini
Tiada tahu dimana
Tiada tahu sedang apa
Ada yang menikmati kebebasan
Itu aku

Lupa ini hari apa
Seperti lupa sarapan makan apa
Mirip jalan tanpa niat
Ada yang begitu
Itu aku

Sedang linglung kikuk
Jalan mana yang dipatuk
Jingkrak di tempat sendiri
Ada yang bising
Itu aku

Kepala berat
Bukan karena cobaan
Tapi karena ilham
Terlalu banyak perspirasi
Bukan hanya inspirasi
Serasa bisa menghidup yang wafat
Ada yang sombong
Itu aku

Foya-foya sampai koit
Tidak sadar kantung haus duit
Hutang ke ibu, piutang ke kerabat
Ada yang merasa hebat
Itu setengahnya aku

Tidak merasa cinta
Sepi suntuk mati muntah
Terkungkung melintah
Kegemarannya berdoa
Merasa kecil acap diinjak
Takut membelalak cermin
Kerap tidak pantas
Ada yang merasa itu
Jelas itu bukan aku

Karena aku sedang mengejarmu!


Medan, 1 Maret 2016
Afif Nabawi

Amarah

Author: Afif /



Nanti bila sudah waktunya
Ada wajah dan kata yang terlupakan
Bilamana waktu dan tenggat mengulah
Sedikitnya merembes kembali
Sungguh kita akan sesali

Bila tiap manusia ada batasnya
Baik amarah maupun bertamah
Maka bersyukurlah
Kau bukan tuhan

Ada yang bilang marah itu menyenangkan
Semua di tengkuk kendalimu
Kau teriak, orang terbentak
Kau diam, orang tenggelam

Di selip tiap amarah
Akan selalu ada trik manisnya
Kau bisa berpura
Cuma bermain seputar manisan bibir
Atau mungkin sedikitnya bergumam
Biasanya kau langsung lega
Atau bisa juga dengan diam saja
Kau hanya perlu menghapus wajah orang
Yang paling berdosa bagimu

Lantas datanglah lagi
Ada sepasang macam orang dengan marahnya

Kau bisa tahan dengan orang
Yang di tiap nafasnya
Dan laparnya
Ia marah
Kau salah
Ia marah
Kau senang
Ia tak senang
Lalu ia marah
Ia marah
Ia tidak senang
Kemudian ia marah lagi
Watak ini, watak yang tak pernah tenteram

Tunggu dulu
Ini belum selesai
Kau bisa sumbat telinga anggar dudukan
Jangan kau pedulikan
Namun jangan pernah kau kecewakan
Orang yang tidak pernah marah padamu
Karena kau tahu apa yang lebih buruk dari semua amarah?

Adalah mereka yang tidak membiarkan dirimu tahu
Sampai kapanpun
Kau tidak tahu
Apakah mereka marah atau tidak
Kau bahkan tak tahu

Marahnya mereka, adalah marah yang paling terpendam
Dan yang paling kejam
Karena mereka mengurungmu
Dalam tanda tanya yang bertanya mengapa


Medan, 27 Februari 2016
Afif Nabawi

Puisi Favorit Pembaca

Diberdayakan oleh Blogger.