Berbincang dengan Waktu

Author: Afif /





Waktu yang belum terjemput
Tercecah rongrong seraya menyusut
Minta disusun minta diusut
Apa hanya aku yang terhasut?


Sapaan, saat masa masih belia
Sekejap seruput kopi di belak sore
Cepat, singkat, tidak tahu diri
Baru kali ini ia belajar
Melambat, makin tersumbat
Waktu, kau sudah jinak


Jangan-jangan jangan kau manja
Berpura berbisik lamunan lesu
Jangan sampai kau ambil orangku!
Aku tumbuh mereka tumbang
Aku sembuh mereka timpang


Haruskah aku berbayar padamu?
Membeli menit-menit yang kau tabung sampai kembung


Antara aku yang ditangis
Atau kau yang diemis



Medan, 15 Mei 2016
Afif Nabawi

Rantai Makanan

Author: Afif /



Tidak ada kerja
Kerja jadi apa
Apa bisa kaya?
Kaya harta tapi sepi
Sepi tapi kaya juga senang
Senang senang lupa kawan
Kawan sapalah aku
Aku jadi beban
Beban bukan negara
Negara aku tak peduli
Peduli apa mereka padaku
Padaku aku malu
Malu sendiri
Sendiri sampai mau muntah
Muntah, muntah yang banyak
Banyak tidur aku hampir meninggal
Meninggal nanti aku bagaimana
Bagaimana keluarga?
Keluargaku cukup
Cukup satu wanita?
Wanita beribu aku mabuk
Mabuk kerja sampai beranak
Beranak berapa aku nanti?
Nanti aku pakai pakaian bagus
Bagus tampangku bagus jodohku
Jodohku... mungkin sedang diambil orang
Orang kaya, orang fana, aku tak perduli
Perduli dengan apa aku dihidup
Dihidup ini aku cuma sebentar
Sebentar tawa, sebentar tangis
Tangisku di malam
Malam itu, malam ini aku cuma tidur
Tidur kali ini aku mimpi
Mimpi kosong, sampai besok
Besok aku sibuk tidak?
Tidak ada kerja


Medan, 10 Mei 2016
Afif Nabawi

Ibu-ibu Pemburu

Author: Afif /



Disitu terselip yang warna ungu
Ah
Di bawahnya ada yang berwarna hijau
Tarik! Tarik kedua!
Tak gena isi dompet mengena
Bila ada kesempatan
Segera gamblang
Mumpung tangan masih gampang
Dan uang bergelimang

Laparnya ibu-ibu
Laparnya kami
Pemburu pakaian
Pengincar status
Ingin dipuja
Bersandang
Berpandang

Setelah dipadan
Lalu mereka berdandan
Kami tidak, bukan setengah wanita
Tinggal pamer serong kanan kiri
Menarik hati atau buta membabi
Bilamana adapun melihat
Apalagi mencerca
Jangan pedulikan namun dicerna
Ibu-ibu ya mereka
Kami juga ya kami
Sama-sama senang
Sama-sama menang


Jogjakarta, 4 Mei 2016
Afif Nabawi

Jenaka Rindu

Author: Afif /





Bagi beberapa orang
Rindu itu indah
Ia menyatukan dua hasrat
Yang sejatinya terpisah
Jadi ia yang menjadi jejak
Titik bertemu untuk keduanya

Ah, kurasa bagi mereka rindu itu sama dengan puasa
Setelah buka puasa, semua juga senang
Aku tidak

Bagi beberapa orang
Rindu itu gundah
Ia jatuh, dan semua cemas
Ibu, anak, sahabat, kasih
Jadi ia yang menjadi pengingat
Surat kabar untuk keempatnya

Kurasa bagi mereka rindu itu sama dengan surat kuasa
Setelah suratnya keluar, semua juga khawatir
Aku tidak

Bagi beberapa orang
Rindu itu sampah
Ia berserakan dan tiada guna
Yang ditinggal, yang diharap, yang diikat
Jadi ia yang menjadi perih
Ampas untuk kesemuanya

Kurasa bagi mereka rindu itu sama dengan sunat masal
Setelah sunatnya kelar, semua juga mereda sakit
Aku (mungkin) tidak

Bagi beberapa orang
Bisa kau berhenti bicara?

Bagiku rindu itu biasa saja


Jogjakarta, 3 Mei 2016
Afif Nabawi

Mereka yang Tahu Segalanya

Author: Afif /





Dimana pun berjalan
Disana
Jangan salah kaprah
Hanya disembah

Menjadi tuan bagi hamba hamba  muda
Berharap kerap ilmu tertular
Lalu dia yang pintar
Lalu dia yang bodoh
Yang sama saja dia lalu

Balada jadi guru
Ada damba ada haru
Setiap hari cerita baru
Bila dibukukan,
Tidak akan selesai
Mereka tahu segalanya
Dari cara merayu
Sampai cara membabu

Sabda mereka sabda penuh berkah
Kasihanlah!
Mereka dilepuh dileceh
Bukan mulia lagi yang mereka ulang
Datang duduk tulis pulang
Hati kepayang kepala berbayang
Mereka teman malaikat

Bersamaan dengan muridnya
Semakin tua semakin lupa
Hanya bedanya satu
Murid mendekati hidup
Mereka mendekati redup

Medan, 29 April 2016
Afif Nabawi

Itu Katamu

Author: Afif /




Pupus itu memalukan
Sudah tepatkah kita hapus
Fantasi liar kita
Tentang bagaimana mengalahkan dunia
Tentang bagaimana menjawab takdir

Bagaimana tidak
Baru aku yang sadar
Hanya aku yang menyahut
Kabar madu yang menyapa
Yang kau kirim dengan ketiadaanmu
Maaf, kau belum mati
Naif, bagiku kau sudah

Lalu aku ini anjingmu?
Rongrong kanan kiri
Mencarimu mengais majikan
Menjilat mentah kehilangan
Mendengkur di bawah mimpi yang dingin
Hampir beku
Kaku
Nyaris membatu
Tiada bantu
Tiada pasti
Kapan aku menggerak mata
Yang itupun masih mencarimu

Aku dimakan waktu
Setelah sedak dengan kayu
Sekeras kepalamu yang bayu
Aku dimakan rindu
Setengah sentak dengan hadirmu
Setengah lagi doa panjang yang semu

Diantara bilik kemarin dan kelambu
Yang kau bisik cuma kekecewaan
Ketidakpercayaan
Jangan bilang aku menyerah lemah
Layu kemayu
Aku malu-malu
Aku pilu
Itu katamu
Itu katamu
Itu katamu


Jogjakarta, 27 April 2016
Afif Nabawi

Puisi Favorit Pembaca

Diberdayakan oleh Blogger.