Remang pagi
Menyenter remah roti
Bebas terjemur matahari
Harum pakaian merimbun
Sehidup nafas baru
Dan liur yang membiru
Demi apapun
Semua terdengar merdu
Di telinga-telinga busuk
Ketenangan ini
Mirip lamunan di sore
Sebelum hujan
Yang tidak jera terjatuh
Walaupun tahu ia kesakitan
Mungkin itu alasannya
Begitu banyak wanita
Cinta pada hujan
Mereka ingin lihat pria
Disakiti berkali-kali
Namun tetap datang
Sudah tahu tetap menabrak
Sudah tahu terpecah terjerembab
Masih saja datang
Kata mereka
Ya, kata para wanita
Lelaki harus selalu mengejar
Lelaki harus kuat
Kalau lemah, kalian enyah
Lelaki tidak mengerti
Lelaki harus beri waktu
Lelaki harus membujuk
Lelaki harus belajar
Lelaki harus sabar
Lelaki tidak pernah benar
Karena kalau lelaki benar
Maka ia tidak punya wanita
Maka lelaki akan tetap jatuh
Supaya tetap jadi
Hujan untuk wanitanya
Berbeda adanya di kepala ini
Ada pencarian yang tak terucap
Yang tak perlu semua orang paham
Sembunyi mengekori candaan
Sembari menunggu pujaan
Yang entah terlewat, entah sedang sekarat
Masa bodoh
Setidaknya misteri tentang hujan
Sudah terkuak
Itu sudah cukup
Siapa yang mau jadi budak wanita?
Medan, 14 Februari 2016
Afif Nabawi
Alasan Wanita Suka Hujan
Author: Afif /Maling Lugu
Author: Afif /
Untuk maling lugu
Yang semalam membobol sarangku
Bila kau tertangkap
Dan kau diringkap
Ini yang akan ku lakukan
Ketika aku berkencan denganmu
Tidak seperti orang berang dijalanan
Yang alas kakinya di colong
Biasanya mereka akan memaki
Lalu memukul tiada ampun
Maka kau harus ingat
Aku akan menyiksamu luar dalam
Aku akan ikat kau di tiang tinggi
Begitu menjulang sampai kau berdoa kau jatuh
Aku datangi kau dengan ringisan
Tanda puas kau akan mati
Mari kita mulai, perlahan
Jangan harap aku akan kasihan
Kapan lagi aku bisa beringas
Kau memang sedang naas
Aku buat kau menatap mataku yang tak sabar
Melihat matamu ketakutan
Sedikit saja aku bisikkan ini
"Tolol, bersiaplah kau tersiksa. Jangan harap selesai disini. Bila neraka
ada, maka iblis akan membantuku menyiksamu. Aku sudah berdoa agar kau mati
setelah kau mati."
Dengan santai aku berjalan ke belakangnya
Aku jambak rambutnya
Tidak di depan
Di tengah
Sekencangnya
Tiap teriakannya mirip terompet tahun baru
Pada masa itu aku sudah terbahak
Dipadu dengan ringisannya
Aku akan tarik terus sampai rambutnya tercuri
Seperti dia mencuri hartaku
Tahan ceritanya sebentar
Aku bersigap mengambil pisau
Kubumbui dengan cuka dan merica
Ku iriskan wajahnya
Seperti make up ibu renta
Dari bawah mulut
Pipinya akan habis kusilang
Lalu ku berikan dihadapannya cermin
Aku kembali tertawa
Ternyata aku punya ide lagi
Aku teringat aku benci dokter gigi
Akan kubuat dia juga
Sayang aku tidak punya bius
Kasihan dia
Jadi aku bawa gunting dan tang
Ku gunting gusinya sedikit
Kubiarkan saja
Sisanya kupanen dengan tang
Pesta darah!
Kapan aku bisa puas?
Tidak sekarang
Warna merah kental terlalu manja bagiku
Aku butuh kembang api
Dan hitam oli
Aku loncat ke garasi
Ambil si bening
Ku siramkan hanya di kaki dan tangan saja
Semua sudah siap?
Mari mainkan petasan kita!
Lilin ulang tahunku masih ada
Ku oleskan di minyak tadi
Luar biasa
Baru kali ini aku melihat selebrasi
Lebih meriah dari sunatan masal
Yah mungkin aku sudah puas
Belum
Aku ingin buang air kecil
Mungkin karena terlalu banyak tertawa
Mulutnya sepertinya bisa menampungnya
Ku lakukan saja
Ternyata dasar aku kotor
Semua badannya kena
Ya sudahlah
Sekalian dia mandi
Toh airnya juga bagian dari seniku
Sekalian pengampunannya
Asik sekali
Kutinggal dia
Untuk pesta besok lagi
Medan 11 Februari 2016
Afif Nabawi
Biodata
Author: Afif /
Perkenalkan
Akulah serigala
Sebelum kau ratapi aku
Aku sudah merajam mengutuk diriku
Disaat saat aku menengadah
Aku kembali ke wadah gelap
Datangilah aku
Dan bersiaplah
Untuk melankolia
Kau boleh melihatku
Silahkan sentuh aku
Dari ucapan, dari terkaan dan dari doa
Pantanglah jika kau menarikku
Kau salah langkah
Karena aku tidak akan mati
Dan kau tidak akan mengerti
Nikmatilah sela seluk misteriku
Aku begitu adanya
Bila kau terjebak
Telanlah resikomu sendiri
Aku bukan malaikat
Lihat dibelakangku
Aku mengoleksi topeng
Mintalah aku memakainya
Akan kupasang yang mana yang kau ingin
Takkan pernah ada yang melihat wajah asliku
Wajah yang kubenci
Dan ku bunuh setelah ku caci
Aku akan cinta bersembunyi
Dan bermain dengan karya bernyawa
Izinkan aku berterimakasih
Bila kau mau jadi penontonku
Dan bila kau tertawa, itu hakmu
Dan bila kau tertangis, itu kutukanku
Bersyukurlah
Kau bukan aku
Tidak ada yang menjadi aku
Dan aku berhenti mencari tambatan
Sungguh, tidak ada yang tahu rasanya
Membunuh diri sendiri di tiap malam
Dan kembali hidup esok kelam
Dan berpura bahagia
Afif Nabawi
Kehidupan Kedua
Author: Afif /
Awal dari akhir
Ditengah
Akhir dari awal
Diapit umur-umur yang semakin berpinak
Ada yang panjang
Ada yang lekang
Ada juga yang datang lagi
Hidup memang tiada duanya
Setengah masa sudah dijalani
Setengah lagi menganga
Menuntut jawab
Aku berkeliaran di masa mudaku
Berjinjit dan menguntit
Banyak yang bilang saatnya mencari makna
Aku jawab, aku sudah kenyang
Cukuplah malang melintang
Untuk apa begitu kepayang
Bila hanya gelinjang di kandang
Jangan ditanya aku bahagia
Aku pengemis yang paling beruntung
Biar aku tua, terkasihku senantiasa muda
Jiwanya dan cintanya
Segalanya masih sama
Aku masih si polos yang bodoh
Suka bermain dengan gelap dan dingin
Mengoleksi topeng
Bergaya jadi bebek dan serigala
Tidak tahu siapa yang menjemput
Suara di kepalaku jadi sejawat
Menyambung gubahan
Panggilan-panggilan
Yang lama jadi kutukan pribadiku
Aku siap
Berlari melawan rotasi
Aku harus pergi sebentar
Jangan dibawa ke hati
Aku cuma berkelana
Berkenalan dengan maut
Kali ini enggan manggut
Aku berani sendiri
Ini hariku!
Ini hariku!
Hari ini aku yang paling hebat!
Disisa sumpah pejam
Waktu-waktu yang kupinjam
Melintasi mimpi sejati
Hidup setelah mati
Jadi biarkan aku
Menemukan panggung baru
Tunggu aku
Tonton aku
Menghilang
Melawan padam
Dan berdansa dalam diam
Di kehidupan kedua
Dimana aku jadi tiada dua
Afif Nabawi
Medan, 10 Januari 2016
Dalam Rahasia yang Tiada Habisnya
Author: Afif /
Aku bergandeng dengan kunang-kunang
Di depan tempat kita bertemu
Yang kita lupakan
Karena wajah wajah kita
Memeluk satu sama lain
Tak perlu tangan
Atau badan
Aku melepas gandenganku
Karena darimu sudah berkelip
Rasa canggung, kepayang, dan sedikit pusing
Tentang betapa malam itu tidak bisa lebih sempurna
Ketahuilah aku menjadi bodoh ketika bersamamu
Mulut mati kelut
Rasa mati asa
Menjemput rasa tunggu
Satu hari serasa satu uban
Aku ingin jadi bodoh selalu
Karena malam ini tidak cukup
Setidak adil pagi melahap subuh
Aku ingin lagi!
Aku sudah siapkan kata-kata
Aku lupa
Tapi siapa tahu
Kau pun entah percaya
Tentang bagaimana memendam
Bagaimana mengintai dari khayalan
Bagaimana kalut dan kalap
Kubawa lalai dan lelap
Setia pada gelap
Pada akhirnya memang hanya kau
Pucuk kiblat petik puisiku
Tidak perlu aku taburkan di depanmu
Biar itu jadi santapan jam sepi pribadi
Pada akhirnya memang aku belajar
Kita di tengah banyak jembatan
Penuh resiko, penuh cobaan
Yang kadang perasaan
Cuma jadi arus gemercik
Yang kadang cinta buta
Cuma jadi perahu lewat
Yang kadang obsesi
Cuma jadi karang basi
Untukmu
Yang dalam diamnya bersahaja
Yang tidak pernah tidur namun bertualang
Cintaku, akan selalu ada
Tidak usah dipaksa, ditarik, atau disesal
Lepas, lepaslah
Sungguh, bersungguhlah
Aku tetaplah aku
Karena aku ikhlas.
Begitupun dengan tulisanku yang kali ini
Aku kosongkan beberapa larik
Agar sama seirama masa depan kita
Begitu misterius
Begitu luas
Begitu bebas
Biar kita yang gambar lagi
Di atas meja
Bernama waktu
Dan di bawah lampu
Bernama takdir
Bila telah cantik menurutmu
Jangan lupa membungkusnya
Dalam rahasia kita
Yang tiada habisnya
Afif nabawi
Bandung, 4 januari 2016
Sesaat di Keabadian
Author: Afif /
Sesaat di keabadian
Mencicip buah-buah terlarang
Namun tidak terbuang terluntang
Mendosa segratis-gratisnya
Bolehkah jadi pemuda yang liar?
Tidak tahu namun tata krama
Tidak membabu karena karma
Tahunya hidup dan makan tahu
Menjilat aspal segegasnya
Menginjak lembar buku-buku bodoh
Mematahkan jarum jam
Tidak usah peduli, tidak akan dikibuli
Rajamlah, hinalah, kejarlah
Kami muda dan kami bebas
Kami bergerak dan kami hancurkan
Kami tertawa dan kami hidup
Kami tarik baju baju wanita
Kami simpan dan jadikan piala
Kami terjang telanjang meradang
Kami adalah binatang
Hanya usia yang jadi aparat
Kami tak peduli kalian jadi keparat
Kami mencicip keabadian
Diatas kalian yang hidup dalam kepalsuan
Untuk kalian yang dengki
Dengarkan senandung kami
Setiap malam setiap pulam
Sampai kerongkongan kering
Kami berteriak beriring
Nikmati masa muda, orang tua kalut!
Medan, 20 Desember 2015
Afif Nabawi
Puisi Favorit Pembaca
-
Nanti bila sudah waktunya Ada wajah dan kata yang terlupakan Bilamana waktu dan tenggat mengulah Sedikitnya merembes kembali Sungguh...
-
Kita bukan robot Jangan kau paksa yang kau anggap robot jadi robot Kau pun bukan robot Kalau kau pikir robot tak punya hati, lalu ...
-
Memantaskan diri Memantapkan diri Memanjakan diri Memastikan diri Membahagiakan diri Menjamah diri Menjajah diri Mendirikan di...