Agen, Agen Kebahagiaan

Author: Afif /



Luka di kaki
Tawa di bibir
Tunda bicaranya
Hanya mata kita bertangkap, berbincang
Karena cerita kita berawal dari awalmu
Menjajah alamku

Mengundang tamah
Perhatian merebah
Aku datang dia datang
Kami enggan pergi
Kami memilih dan dipilih

Kami datang layaknya agen
Ya, kami punya radar
Menebar kebahagiaan
Bukan pada semua pujaan
Hanya dua diantara kami
Saling bersembunyi dan berbisik
Saling bergenggam bermunajat
Berlutut pada kesederhanaan yang sempurna

Kami mengoleksi mimpi
Terlalu aneh untuk diringkas
Terlalu gila untuk dilahap
Cuma kami yang paham
Sesayang orang lain tak berwaham

Biarkanlah kami bermalam dan berbincang
Bukan untuk lancang
Hanya kami senang
Beban teruntai menggugurkan diri
Hanya canda menari sembari

Tidak usah tanya kami mau kemana
Kami juga penasaran
Tapi kami tidak perlu tahu
Karena hati menyimpannya rapat
Dan berbungkus doa yang kembali tergantung tinggi

Sedikit, sedikit, lalu sedikit lagi
Tanpa menghitung apa yang terbelakangi
Kami siap untuk menjalankan misi
Karena kami yakin,
Kebahagiaan mengelilingi kami

Tunggu cerita kami selanjutnya ya!


Medan, 11 Oktober 2015
Afif Nabawi


Permainan untuk Anak Tua

Author: Afif /



Di remang senja, remis hujan bergilir
Di depan layar teras, bocah botak bermain bola
Dikejar sobatnya yang botak juga
Dua gundul mengejar bola, lah kami yang tua-tua ini
Mengejar cinta

Jaman dulu
Kami yang tua ini juga bermain
Bukan sekedar main bola
Semua urung permainan kami sentak
Jangan sombong, tuyul-tuyul imut!

Nikmati dulu saja dik
Kami yang tua ini, sudah ada permainan baru
Namanya permainan cinta
Pernah dengar?
Belum pastinya
Tahu apa kalian bocah

Nih
Kami beri ceritera

Tidak semua dari kalian bisa bermain
Kalian harus rupawan dan jutawan
Harus pandai bercakap memikat
Harus dikenal biar tidak terpental

Di permainan ini
Kalian harus hati-hati
Kalian tidak bisa mati
Karena sebelum kalian mati, hati kalian remuk lesi
Tenang saja, kalian akan bersenang
Tapi jangan bawa hati kalian
Simpan rapat di lemari

Langkah awal kalian
Jangan sentuh buku bertulis kata tulus
Atau jangan katakan ikhlas
Itu semua curang
Jadi jangan lakukan itu
Karena semua yang dalam permainan ini, juga begitu
Penuh siasat

Sikap siap!
Kebohongan adalah makanan utama kalian!
Berbohonglah sepuasnya tentang hati dan iba
Setelah itu bungkus ia dengan janji-janji
Biar makin tajam
Biar selalu dalam

Lalu, awas ikatan mereka!
Kalau mereka mengikat, tandanya mereka ingin berhenti bermain
Kalau tidak, kalian sedang bermain, anak-anak!
Sisipilah kata-kata manis
Buat mereka tertegun harum terikat
Nikmati saja sampai kalian merasa hina
Namun kalian tak hirau

Sudah kalian rasa lama?
Ya sudah
Toh mereka akan melepas
Janji mereka
Kata mereka
Mereka akan cari yang lain
Cari mereka yang lain
Ulangi lagi
Sampai begitu, baru kalian pulang ke rumah, supaya Ibu kalian tidak memukul panci gosong

Besok kita coba main itu ya!


Medan, 2 Oktober 2015
Afif Nabawi

Kolang-kaling Baling-baling Cinta Juling

Author: Afif /



Untuk sang maha pembolak balik hati
Bila memang mata ini harus padam
Pejamkanlah ia disamping keabadian
Mengekerudungi malam dan kemunafikkannya
Menyeka aib
Harapan yang raib
Penantian pahit
Kata rasa yang terpatah sebait

Urungkanlah niat layu ini
Terseret jarak yang mengobati
Perasaan yang terhianati
Perkara waktu yang menjahati

Sekali, dua dan tiga kalinya
Tertegun tegang terbanting-banting
Cinta hanya untuk pemimpi
Cinta hanya untuk pemimpi
Pecundang, kau dimana? Dimana?

Sungguh, janji hanyutlah bersama asa
Kalau bodoh, pantanglah buat serapah
Gumam sendiri, demam sendiri
Menelan doa-doa yang tertunda

Halo
Bangun
Sadar
Hai bodoh

Bicara sampah perihal keabadian
Dia mati kau mati
Anak-anakku akan berceloteh tentang abadi kelak nanti
Omong kelontang konon janji
Mata dia tidak melihatmu
Seretlah dia, dia terimba di belantara lelaki
Bicara cinta?
Masih berani kau, bodoh?

Kolang-kaling baling-baling ooh kambing kau dibuat juling cinta pangling


Medan, 11 September 2015
Afif Nabawi

Tung

Author: Afif /



Tung
Jatuhlah detik
Tung
Jatuhlah detak
Tung
Jatuhlah lagi

Jemu
Tiada membaru biru
Tiada makin jauh penuh
Kembali esok secepatnya
Terlihat lebur masa lalu
Mau semuntah sejadinya
Entah mau apa

Dimana tembok yang rela dipukuli
Sini cepat
Disini sudah mulai hangus
Akan kebosanan kian
Harta, tahta, wanita
Cemilan wajib dunia
Ogah dirasa ajib
Mustahil kembali ajaib


Medan, 10 September 2015
Afif Nabawi

Menggeram Pitam

Author: Afif /



Aku punya tempat tidur
Regang renyah
Berebah
Di sampingnya ada air putih
Tidak manis, apalagi kecut

Di setiap tegukan,
Dan setiap langgam gerak
Aku sulit memahami
Apa yang harus kupahami

Terbias larut alami
Apa aku terbohongi?

Sudah cukuplah rongrong terjepit
14 hari cuma seperti mimpi kepit
Tidak seperti gitar lapuk punyaku
Keropos sampai ke akarnya
Hampir mati karena ku perkosa secara ikhlas
Tiap malam tiap muram
Menengadah menggeram pitam

Maka dari itu aku takut karma menjemputku
Sejumput ia membuntuti
Santailah sebentar
Tetap saja aku lebih pintar


Medan, 6 September 2015
Afif Nabawi

Mengetuk Kening

Author: Afif /



Tunggu!
Tunggu sebentar!
Biarkan aku!
Jangan panggil panggil aku dulu!
Aku lagi tersenyum manis!

Aku sekarang kembali lagi
Topeng serigala kurendam rapat di lemariku
Lapis lalu lapis
Raba-rubu debug debar
Tiap malam aku keluar
Bukan untuk berpikir, tapi untuk tertawa lepas bebas

Besok mungkin aku mati
Mungkin juga masih berlari sana sini
Aku hanya butuh malam ini saja
Dan malam besoknya juga milikku, seutuhnya
Aku hidup!

Terlalu banyak kisah yang terbagi dengan dirimu
Dingin, hangat, semuanya
Hanya dalam waktu kalender yang terlipat
Manis

Kau harus tahu
Disetiap saat kuketuk keningmu
Aku menanam cerita
Aku mengingat kenangan
Aku menular bahagia
Biar selamanya ada di kepalamu
Lalu langitmu tidak lagi sekosongnya lembaran
Bukankah itu yang kau takutkan
Apalagi yang sementara seperti meteor
Bukankah itu yang kau takutkan
Aku tidak melewatimu
Aku disampingmu, seutuhnya

Definitif adanya
Hidup hanya sekali diantaranya
Sekalinya denganmu
Sekalinya waktu

Aku, kau, dan malam
Jadi surga kecil kita
Saat dunia tertidur
Kau duniaku


Medan, 5 September 2015
Afif Nabawi

Puisi Favorit Pembaca

Diberdayakan oleh Blogger.