"Aku Minta Maaf Ya"

Author: Afif /



Hati yang paling tidak tenang
Adalah hati yang tidak pernah memaafkan
Bak parasnya
Semasa hati yang tidak minum air
Mau sembuh sendiri, mana bisa

Ada berjuta cara darah mencapai otak
Selalu juga singgah ke paru-paru
Belum lagi harus mengambil nafas
Itu tidak mungkin salah
Bukankah pekerjaan tuhan tidak pernah salah?
Jawablah, hamba setia

Lalu apa yang diharap dari manusia?
Menjadi sempurna?

Kesalahan memang menjentik luka
Luka sedikit jadi koreng
Luka banyak menjadi dendam
Mengkerubungi, sesak habis ruang
Kapan mau sembuh?
Obatnya sudah banyak

Berbondong rapi di otak kita
Tidak butuh uang
Tidak butuh tenaga
Hanya perlu komando mulut
"Aku minta maaf ya"
"Iya, aku maafkan"

Hanya saja
Sayang berbumbu sayang
Hati siapa yang tahu
Pagar membentang terjal
Harga diri tebusannya
Apa kata orang nanti?
Mau jadi apa aku?
Siapa dia?
Aku tidak akan lupa!

Semoga cepat tenang,
Jiwa yang bimbang


Medan, 25 November 2015
Afif Nabawi

Dahaga Lelaki

Author: Afif /



Aku dijatuhkan dari tempat yang tinggi
Semampai tak sanggup leher mendongak
Sudah cukuplah aku berbaring lepas
Terjerembab
Terendam
Tanpa nikmat, tanpa kelebat
Hingga kebas setiap ujung kuku

Aku cuma ingin melihatmu lagi
Tidak cukup di alam mimpi aku bertegun rindu
Terbawa lagi
Hanyut lagi
Aku murka pada diri

Saksikan aku menekuk lutut untukmu
Serendah tanah tempatku mengapung

Berapa kali aku sangkal
Bertakur tanpa bersyukur
Wajahmu
Wajahmu
Wajahmu
Bisakah kau enyah dari muka bumi?
Buat jiwa ini tenang walau tidak menang

Dahaga menjadi lelaki
Aku digerayangi

Dari mata
Jantung menemani
Menarik ubun-ubun
"Ayo runtuh! Ayo runtuh!"
Nadi menjadi-jadi
Aku harus lari
Bila sudah begini

Dahaga menjadi lelaki
Kau tak pernah alami

Bila terpisah fisik
Tinggal berkhayal supaya asik
Dunia sudah tertinggal
Aku harus apa
Bila sudah masanya

Dahaga menjadi lelaki
Hanya kami yang miliki


Medan, 22 November 2015
Afif Nabawi

Tua

Author: Afif /



Apa rasanya
Bila nanti jadi tua
Nanti tua jadi

Tangan bilang malas
Otak sudah botak
Teriak teriak pancak

Kaki mau pensiun
Pinggang makin kerontang
Ringkih patah diambang tumbang

Dada pamer tulang
Perut tidak mau kalah
Lemak bekas perang melawan makanan

Koleksi keriput sukses
Gigi runtuh protes
Bibir melepuh cium setetes

Mata minta ampun
Kantung kelopaknya punya kantung
Kapan bisa pulang lembur

Mulut, hidung, telinga hanya tersangkut
Berayun seirama leher termanggut
Menampung nasib

Hati kecil
Semua tergantung di rimbanya
Entah masih menyimpan jiwa muda
Atau sudah habis terpakai
Jangan sampai kau mati
Hati kecil


Medan, 18 November 2015
Afif Nabawi

Karya

Author: Afif /



Ketahuilah
Ayah
Ibu
Adik
Kakak
Sahabat
Terkasih

Ketahuilah aku ini abadi

Bukan
Aku bukan tuhan
Nanti
Bila saatnya menjulang jemput
Aku akan mati
Seperti kalian

Mungkin lebih cepat aku
Siapakah tahu siapakah mau

Sungguh
Aku abadi
Karena aku punya cinta
Tertanam dalam dalam kenangan alam sadar
Sudah ku pupuk sudah ku hunus
Berakar sampai kedalam dalamnya tidur dan bangun
Seperti kalian bertanam cinta kedalamku
Setiap harinya, setiap kedipannya, setiap kecupannya
Terimakasih

Namun
Bila memang itu tidak cukup
Aku akan tetap hidup
Karena aku punya karya
Seaslinya cerminan diriku
Tersebar di dunia nyata dan dunia maya melata
Ku lahirkan setiap saat
Di malam dan putaran paginya hingga ajal melirik manja
Aku meraja dan bersahaja

Sadarlah
Salah bila aku berkarya agar aku menyombong
Bilanglah itu, maka mereka beromong kosong
Aku berkarya karena aku bahagia
Aku bahagia karena aku abadi

Bila kalian rindu nanti
Jumpailah karya-karyaku
Coretanku
Gubahanku
Merekalah anak-anakku
Anak dari aku dan kenanganku bersama kalian
Saksi hidup sementaraku
Bukti yang tiada mati

Disetiap dari mereka ku bagikan cinta
Tanyakan pada mereka bagaimana aku hidup
Ditengah ayah
Ditengah ibu
Ditengah adik
Ditengah kakak
Ditengah sahabat
Ditengah terkasih

Mereka akan katakan,
Bukan dengan lirih
Hanya dengan berkaca senyum
Bahwa sungguh
Aku hidup dengan cinta
Aku sedih dengan cinta
Aku bahagia dengan cinta
Aku mati dengan cinta

Dan aku abadi karena cinta


Medan, 11 Oktober 2015

Sayang, Skripsiku Sayang

Author: Afif /



Sayang
Skripsiku
Skripsiku tersayang

Jangan belai telingaku malam ini
Bokong pembohong ini sudah tekor telungkup
Sengau bernafas menciut keriput

Mendengar suaramu di setiap lembar
Berlapis lembar, bersusun angka, berurai kata
Bercetak miring, ada yang tebal

Lama lama aku bebal
Sudah cukuplah kau bertamu di malam melankolisku
Tata kramamu bertuliskan kewajiban
Semoga kau cepat tamat
Semoga kau cepat tamat
Semoga kau cepat tamat
Aah, senyaplah!

Mengertilah aku sedikit
Dasar pentamak waktu!
Aku punya kehidupan
Kalau kau punya hobi bermanja
Hinggaplah di kepala keriput yang lain

Mulai sekarang kita jalan masing masing
Kejarlah aku, kau kulempar


Medan, 7 Oktober 2015
Afif Nabawi

Penanti Pengganti

Author: Afif /



Banyak orang berujar
Tentang bagaimana cinta tidak akan terganti
Tidak akan bertemu tambatan yang sama
Segalanya akan berbeda
Karena semua orang kodrat tak sama
Dari telinga kiri, sembari telinga kanan
Ku cerna cermat
Kata-kata ini

Sudah dapatkah dirimu?
Penjinjing kodrat yang melebihi diri ini
Karena aku percaya
Aku percaya akan selamanya
Dan aku percaya
Semua orang tergantikan

Kita semakin terpisah remah
Bukan jarak tanah usang
Hanya jarak yang kita untai perlahan
Aku kehilangan tawaku
Kau kehilangan ceritamu

Di nanti kelabu
Babulah dirimu
Seraya menikmati denting semujur
Bersama pengganti wujudku
Mencibir membaru haru
Sebarkan lembar-lembar tangkapan foto

Kau memang palsu, pelaku!

Karena percayalah, kau yang merugi
Aku hendak lekas bertemu penggantimu
Lalu aku balaskan dendam terpendam
Baru kau menyesal, baru aku menang
Baru aku bahagia, diapit ketulusan
Baru kau bahagia, dijepit kepalsuan

Semoga keabadianku terjejak sedalam nadimu
Agar makin sakit seiring bertamu


Medan, 5 Oktober 2015
Afif Nabawi

Puisi Favorit Pembaca

Diberdayakan oleh Blogger.